Lamongan Darurat Corona

by Kharis Hadirin

Pasca ditemukannya 13 kasus positif Covid-19, Lamongan kini masuk sebagai kawasan zona merah dengan angka sebaran wabah pandemic yang cukup tinggi.

Status darurat corona di wilayah Lamongan terjadi tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya, daerah yang dijuluki kota soto ini tadinya aman-aman saja dengan kasus Covid-19 terbilang zero alias nol.

Hal ini menyusul pasca ditemukannya 10 kasus Covid-19 di wilayah Lamongan dalam satu waktu sekaligus, yakni per Jum’at (3/4/2020) kemarin.

Kasus ini bermula dari adanya program pelatihan petugas haji yang diadakan di Surabaya, Jawa Timur. Pelatihan tersebut digelar selama 9 hari sejak 9-18 Maret 2020 lalu di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Kegiatan itu sendiri dihadiri 413 peserta dari kabupaten dan kota di Jawa Timur, di antaranya Kediri, Tuban, Nganjuk, Gresik, dan Lamongan.

Sementara peserta dari Lamongan terdiri dari Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) ada 13 tim medis yang mengikuti pelatihan, sedangkan untuk Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI) dari Kemenag ada 8 orang. Jadi total keseluruhan ada 21 orang yang ikut dalam pelatihan tersebut.

Dan saat kegiatan tersebut berlangsung, sebelumnya terdapat 2 narasumber pelatihan yang terindentifikasi positif Covid-19 yang kemudian menularkan kepada para peserta yang lain. Ada 8 peserta pelatihan asal Lamongan yang dinyatakan positif corona, dan 2 orang lainnya diduga tertular dari salah satu peserta. Dan yang terbaru, jumlah positif corona di Lamongan sudah mencapai 13 orang.

Sebagai imbas dari penemuan kasus ini, seluruh desa di wilayah Lamongan kini menerapkan kebijakan Kampung Distancing. Yaitu memberlakukan pengetatan akses keluar-masuk desa melalui satu pintu.

Selain menyiagakan petugas, pintu masuk desa ini juga dilengkapi dengan bilik sterilisasi yang digunakan bila ada warga yang baru masuk ke kampung atau pulang dari bepergian.

Salah satu desa yang menerapkan Kampung Distancing adalah Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong. Sejak sepekan terakhir, di desa ini mulai diterapkan sistem satu pintu di Jalan Mawar. Selain dijaga petugas keamanan dan perangkat desa, juga disediakan bilik sterilisasi. Kebijakan ini diterapkan, mengingat Jalan Mawar menjadi pusat kegiatan masyarakat Desa Sedayulawas dengan adanya dua pasar sekaligus di sepanjang jalur ini. 

Tak hanya itu, untuk mencegah penyebaran covid-19, perangkat desa juga melakukan sosialisasi kesehatan ke masyarakat dan juga melakukan penyemprotan di lingkungan desa, menggunakan cairan disinfektan secara rutin. Tak terkecuali tempat-tempat ibadah maupun lembaga pendidikan. Termasuk menghimbau kepada masyarakat desa untuk memeriksakan anggota keluarganya yang baru pulang dari bepergian atau perantauan ke balai desa secara sukarela.

Jika sejak semula masyarakat mengikuti arahan pemerintah dengan tidak mengadakan kegiatan berkumpul bersama, terlebih di wilayah atau kota-kota dengan basis sebaran virus yang cukup tinggi, tentu hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi. Akibatnya, bukan saja pelaku yang mengalami, tapi seluruh masyarakat juga ikut terdampak.

Source Image: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4966148/desa-di-lamongan-diperintahkan-bikin-ruang-karantina-bagi-pemudik

You may also like

Leave a Comment