Sugeng Tindak Pak Dhe

by Kharis Hadirin

Aroma mentari pagi yang biasa hinggap di beranda rumah, hari ini mendadak senyap dan berubah menjadi belaian sendu.

Belum lama duka di atas langit nusantara sirna pasca kepergian sang putra terbaik dari Tanah Timur, kini kabar yang sama datang dari Solo, kota seni berjuluk Spirit of Java.

Sang Maestro yang disebut oleh para penggemarnya sebagai The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot, kini telah berpulang untuk selama-lamanya.

Kepergian sang legenda tembang Jawa ini, tentu sangat mengejutkan bagi siapa saja yang mencintainya.

Atiku ambyar tenan’ barangkali menjadi ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan suasana hati pasca mengetahui kepergiannya.

Tak mengherankan jika banyak yang merasa kehilangan. Sebab sosok seperti dirinya sangat sulit ditemukan penggantinya. Pribadinya yang anggun, dan jauh dari sifat jumawa.

Lagu-lagu Didi Kempot juga mampu merangkul masyarakat dari berbagai lapisan. Selain liriknya yang sederhana dan membumi, juga mampu menembus sekat-sekat ras, suku, agama dan negara.

Di Malaysia, lagu-lagu Didi Kempot banyak diputar di rumah-rumah warga. Bahkan beberapa lagunya dijadikan sebagai soundtrack acara-acara sinetron di televisi nasional mereka. Bahkan lagunya berjudul Cidro, sempat populer di Amsterdam, Belanda dan diputar di radio-radio mereka.

Kehilangan Didi Kempot sama seperti halnya kehilangan Glen Fredly. Dukanya mengiris dalam. Karena kita semua tahu, mereka bukan sekedar artis, bukan pula sekedar musisi. Mereka adalah pejuang kemanusiaan dengan apa yang mereka lakukan.

Sang Maestro berjuluk The Godfather of Broken Heart

Penyanyi bernama asli Dionisius “Didi” Prasetyo ini sudah sejak pertengahan 1980-an meniti karir sebagai musisi.

Awalnya sebagai pengamen jalanan di trotoar-trotoar di Surakarta (Solo) hingga akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Itulah sebabnya ia menggunakan nama panggung “Kempot” yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

Bakat dan “darah” seni Didi Kempot mengalir dari ayahnya, Ranto Gudel alias Mbah Ranto, seorang seniman terkenal di Jawa Tengah. Bakat seniman sang ayah juga mengalir ke kakak Didi Kempot: Mamiek Prakoso, pelawak senior dari Grup Srimulat.

Berbeda dengan para penyanyi lain, Didi Kempot tergolong super-produktif dalam menciptakan lagu. Konon ada 700-an lagu yang sudah berhasil ia nyanyikan, sebagian besar adalah karyanya sendiri.

Lagu-lagu Didi Kempot umumnya bertemakan rasa kehilangan dan patah hati, dua hal yang sering atau mungkin selalu dialami oleh setiap orang, termasuk saya. Karena itu sangat wajar kalau ia dijuluki sebagai “The Godfather of Broken Heart“, Sang Bapak Patah Hati.

Stasiun Balapan mungkin akan menjadi kenangan. Namun karya-karyanya akan senantiasa hidup melintasi zaman, dan terus menciptakan sobat-sobat ambyar.

Aku nelongso mergo ke bacut tresno… Ora ngiro saikine cidro…“ Sugeng tindak Pak Dhe, semoga khusnul khotimah menyertaimu, surga abadi menjadi rumah tinggalmu. Salam selalu dari sobat ambyar yang akan senantiasa merindukanmu.

You may also like

Leave a Comment