Jenis Wabah Penyakit di Kalangan Jihadis

by Kharis Hadirin

Menengok gaya hidup masa kini, seolah tak lengkap tentunya hidup tanpa hutang. Ibarat sayur asam, maka hutang tak ubahnya seperti micin, gurih-gurih nyoi.

Makin banyak hutang, makin banggalah diri. Barangkali ini jenis kelainan jiwa yang baru ada di abad ini.  

Hutang memang seperti barang antik. Dibenci banyak orang, tapi selalu dicari. Namun jika hidup banyak hutang, apalah gaya setinggi langit. Bahkan kadang tak tahu diri, berhutang hanya untuk sekedar menjaga gengsi.

Tentu menjengkelkan, sebab hutang harusnya diperuntukkan untuk keperluan mendesak dan ketika tidak ada alternatif lain selain harus meminjam uang. Namun yang jauh lebih menjengkelkan lagi, ketika hutang lalu tidak bayar, dan si empunya seolah hidup tanpa beban.

Ironis memang! Seseorang berhutang, lalu dianggapnya sebagai barang pemberian sehingga tidak lagi terpikir untuk mengembalikan uang. Hidup kembali berjalan normal, aman dan damai. Entah ini kelainan atau memang bagian dari tradisi.

Jenis manusia seperti ini memang tidak banyak jumlahnya, namun jelas mengancam sistem penopang hidup kita. Bayangkan saja, ingin membantu namun berat hati, tak membantu merusak hubungan silaturahmi. Maju kena, mundur kena!

Tradisi ‘hutang nggak bayar’

Tadinya, sempat terpikir bahwa hal seperti ini hanya terjadi pada manusia-manusia yang kering jiwanya. Namun rupanya, tebakan saya melenceng.

Fenomena ini rupanya juga menjangkiti kalangan jihadis, orang yang selama ini dianggap teguh jiwanya di jalan perjuangan dan iman.

Tak ubahnya wabah pandemi, mengalir saja hingga ke urat nadi. Tidak sadar diri bahwa dirinya sedang menanggung beban. Bukan oleh ancaman kematian, namun beban menanggung hutang.

Pernah suatu ketika, seorang ikhwan bercerita kepada saya. Ia mengeluh lantaran anak-anaknya sebentar lagi masuk sekolah tahun ajaran baru, sementara belum tersedia dana sama sekali untuk membayar biaya administrasi. Uang ratusan juta hasil dari usaha dagang miliknya, dipinjam oleh seorang ustad yang juga pernah menjadi komandan perang saat konflik terjadi di Ambon, Maluku.

Katanya, uang tersebut segera diganti sepulangnya dari bisnis ekspor yang digelutinya. Nyatanya, dari tahun ke tahun, tak sepeserpun uang diganti. Setiap kali ditagih, selalu saja beralasan bahwa bisnis tak berjalan sesuai rencana. Tak terhitung jumlahnya, hingga sang ikhwan malu untuk menagih.

Lain lagi, cerita seorang ustad dan mujahid besar. Dengan modal gelar dan reputasi, ia berhasil ‘memperdaya’ orang yang membantu meminjaminya dana puluhan juta yang tadinya hendak digunakan untuk membangun usaha ternak unggas.

Lain lubuk, lain ilalang. Datang bermulut manis, lalu pergi menghilang. Bertahun-tahun tidak ada kabar, lalu tiba-tiba muncul di Suriah menenteng senapan. Berpose gagah di depan kamera sebagai tentara Daulah. Sementara jauh disana, ada seseorang yang tersakiti hatinya.

Saya jadi menyadari, perkara hutang-piutang rupanya tak ada kaitannya dengan status sosial. Tidak peduli mereka dari kalangan awam atau pun agamawan, akademisi atau praktisi, rakyat jelata atau aristokrat. Ini soal moral dan tanggung jawab. 

Entah apa yang menjadi pengaruh. Ada orang yang dengan begitu mudahnya menjadikan persoalan hutang-piutang sebagai hal yang biasa dan remeh-temeh. Meski nyatanya, dari lisannya sering mengalir petuah bijak dan ayat-ayat surga.

Mungkin sedang lupa atau belum pernah membaca, padahal agama jelas melarang umatnya untuk bermain-main dengannya. Bahkan Nabi saja pernah menolak mensholatkan jenazah sahabatnya yang masih terganjal oleh persoalan ini.

Kenyataan ini memang sulit untuk dicerna oleh alam pikiran manusia, namun inilah realita yang terjadi. Karenanya, berkacalah pada kemampuan diri sendiri sebelum memutuskan untuk berhutang. Jangan sampai dengan perkara ini, justru menghambat jalan menuju surga-Nya yang abadi. Wallahu’alam

Source Image: https://www.huffpost.com/entry/bankruptcy-at-26_n_5cb5f312e4b0ffefe3b7b4bf

You may also like

Leave a Comment